Selasa, 26 Juli 2016

Tragedi Mina

Posted by   on

Apa yang telah dilakukan Monarki Saudi atas Haramain? Saudi menguasai sepenuhnya Haramain termasuk pengelolaannya. Mereka menganggap Haramain adalah miliknya dan secara sepihak menguasai penuh pengelolaannya yang hanya menonjolkan satu mazhab tertentu, dengan mengabaikan realitas umat Islam yang terdiri dari beragam mazhab. Beberapa peristiwa yang terjadi akhir-akhir ini juga tak luput dari keteledoran kerajaan Saudi dalam pengelolaan Haramain. Tragedi Mina bukti itu semua.
lokasi jamarat dan lokasi kejadian tragedi

Kronologi Lengkap Tragedi Mina
24 September 2015, hari yang dalam sejarah tiba-tiba menjadi hari berkabung Internasional, setelah terjadinya suatu tragedi paling menyedihkan dan paling buruk di sepanjang sejarah ibadah haji. Tragedi mengerikan yang terjadi pada pagi hari pukul 9(waktu Arab Saudi) di Mina disaat ummat Islam dari berbagai penjuru dunia hendak melaksanakan ritual haji, melempar jumroh.

Dalam kejadian tersebut, lebih dari 4.700 jemaah haji tewas, dan lebih dari 1000 orang hilang. Hal ini menunjukkan bahwa ada lebih dari 5.700 jama’ah haji dari seluruh dunia telah menjadi korban tragedi Mina. Tapi kerajaan Saudi dengan mengabaikan fakta yang begitu nyata, masih saja menyatakan bahwa jumlah jama’ah haji yang tewas hanya berjumlah 770 orang. Pada awalnya, pihak kerajaan itu ingin menyembunyikan fakta ini dengan menyebut bahwa jumlah korban tewas hanyalah 200 orang saja, namun karena jumlah korban tewas terus menerus meningkat dan banyaknya mayat yang bergelimpangan terlihat begitu tak terhitung, Saudi menigkatkan jumlah korban tewas menjadi 770 orang. Masih sangat jauh dari kenyataan! Dan ini adalah penipuan sangat besar yang telah dilakukan oleh kerajaan Saudi.

Kenapakah kerajaan Saudi ingin menutup tragedi ini?
Menurut berita dari kantor berita al-Nahrain, Agen intellijen Eropa dan Diplomat dari Brussels telah memberi suatu laporan yang sungguh mencengangkan. Tragedi Mina sudah direncanakan sebelumnya! Hal ini adalah sebuah siasat yang telah dirancang oleh Kerajaan Saudi dengan agen intellijen Israel, MOSSAD, untuk menculik 225 jama’ah haji yang terdiri dari pejabat-pejabat penting Negara Republik Islam Iran yang diantaranya terdapat penasihat penting Ayatullah Sayyid Ali Khamenei dan juga pejabat-pejabat penting dalam program rudal Iran

Putra Raja, Muhammad bin Salman, telah membawa para agen Mossad itu dalam rombongan tentara dan pengawal pribadinya dengan dalih pengawalan haji dirinya yang akan melaksanakan ritual jumroh di Mina

Kemudian rombongan anak raja itu, menutup jalan 204 yang sedang dilalui para jamaah haji menuju jamarat. Akibatnya, para jama’ah di jalan 204 yang berjumlah lebih dari 10.000 orang terperangkap diantara jalan 204 dan jalan 203 karena mereka tidak tahu ada penutupan jalan 204. Jama’ah haji terpaksa berdiri disitu dalam keadaan panas terik dan penuh sesak.
Dan apa yang terjadi setelah itu?
Saat itu, terjadilah tragedi mengerikan yang sungguh tidak diduga oleh para jemaah haji di jalan 204 tersebut. Askar-askar Muhammad bin Salman Al-Saud menyemprotkan gas beracun Karbon sulfida ke arah para jama’ah haji. Disemprotkannya gas beracun inilah yang kemudian memicu kepanikan luar biasa yang kemudian menjadi tragedi saling injak, saling tindih dan berujung pada kematian 4.700 lebih jama’ah haji, yang sebagian karena menghirup gas beracun tersebut, sebagian akibat luka-luka yang tak segera ditolong, dan sebagian lagi menjadi korban terinjak-injak dan susah bernapas.

Kondisi kepanikan luar biasa itu kemudian digunakan MOSSAD untuk melakukan penculikan terhadap 225 jamaah haji asal Iran yang terdiri dari orang-orang penting negara tersebut, yang diantaranya beberapa komandan IRGC (Iranian Revolutionary Guards Corps), yaitu Ali Asghar Fouladgar, Hussein Danesh, Fo’ad Mashghali, Ammar Miransari dan Seyyed Hasan Hasani dan juga mantan diplomat Iran di Lebenon yang bernama Ghazanfar Roknabadi.

Segera setelah operasi selesai, konvoi Muhammad bin Salman Al-Saud dan para agen MOSSAD melarikan diri dari tempat kejadian. Dan segera kerajaan Saudi menutup-nutupi kejadian mengenai berita tentang kehadiran konvoi Mohammad bin Salman yang ditumpangi MOSSAD.
Namun berbagai media antar bangsa (non yahudi) berhasil menguak siasat licik gabungan Tel Aviv dan Riyadh tersebut.
Di berbagai berita juga disebutkan bahwa menurut para saksi mata, askar-askar Saudi yang masih berada disana berusaha dengan paksa merampas handphone-handphone milik para jama’ah ahaji yang berhasil merekam kejadian tersebut.
Jika kita perhatikan, bisa kita lihat bagaimana gambar-gambar jama’ah haji korban Mina yang ditubuh mereka mengalami LUKA BAKAR, padahal tak ada peristiwa kebakaran di lokasi kejadian. Fakta ini menguatkan dugaan bahwa para jama’ah ini terkena gas beracun Karbon Sulfida.

Saksi mata, yaitu para jama’ah haji yang selamat dalam peristiwa tersebut mengatakan bahwa askar-askar Saudi hanya diam dan memperhatikan saja para jama’ah yang mengalami luka-luka dan meraung-raung kesakitan. (Baca juga: Catatan Peziarah di Tragedi Mina ) Mereka tidak segera memberi pertolongan kepada para jam’ah yang mengalami cidera. Askar-askar itu bahkan menghalangi masuknya bantuan dari tenaga medis negara-negara yang telah menjadi korban tragedi tersebut. (Baca juga: Kejamnya Tentara Saudi) Hal ini menunjukkan bahwa Saudi berusaha menyembunyikan apa yang sebenarnya terjadi disana.

Kerajaan Arab Saudi baru memberikan bantuan pertolongan darurat, 3 jam setelah kejadian. Hal itu berakibat membludaknya jumlah korban tewas yang semula hanya mengalami cedera akibat teriknya sinar matahari.
Menurut jemaah haji yang terselamat, jenazah-jenazah tersebut kemudian dimasukkan dalam kendaraan berpendingin yang biasa digunakan untuk mengangkut daging. Bahkan ada jemaah haji yang cedera dan masih bernyawa namun tetap dicampakkan ke dalam kendaraan berpendingin dengan suhu -15*C itu.

Pertanyaan Besar! Mengapa Saudi Sengaja Menunda Pemberian Bantuan??
Apakah motif kerajaan Arab Saudi menunda pemberian bantuan darurat untuk para korban padahal disana ada petugas kesehatan/dokter sejumlah 22.000 orang dan sedang dalam tugas di hari yang sama?
Diduga kuat, motif utama penundaan ini adalah agar MOSSAD memiliki waktu yang cukup untuk menculik incarannya yaitu 225 jama’ah haji asal Iran, dan membawa mereka keluar dari tempat kejadian.
Gambar dibawah menunjukkan salah seorang yang diduga agen MOSSAD kala sedang menyamar sebagai masyarakat biasa.

Bagaimanakah MOSSAD bisa mengetahui tentang kehadiran calon jemaah haji penting dari Iran?
30 hari sebelum melaksanakan ibadah haji ke Mekkah, semua calon jama’ah haji wajib mendaftarkan diri ke kerajaan Arab Saudi. Hal inilah yang memudahkan pihak kerajaan Arab Saudi untuk menandai para jamaah haji itu dengan membuat tanda pengenal berupa gelang tangan dengan menggunakan teknologi biometrik demi memudahkan pengenalan terhadap para jama’ah haji. Dan inilah kemudian yang memudahkan MOSSAD untuk menculik siapa saja yang mereka kehendaki di Mekkah. Cara ini pula yang digunakan MOSSAD untuk menculik beberapa saintis Iran dalam musim haji sebelumnya di Mekkah.
Bagaimanakah MOSSAD dapat mengetahui dimanakah jemaah haji dari Iran sedang berada?
Jawabannya adalah melalui CCTV yang telah dipasang di setiap sudut Mekkah dan Mina. Kamera-kamera super canggih yang bisa mengenali wajah seseorang dengan tepat. Arab Saudi telah mengizinkan MOSSAD untuk leluasa menggunakan teknologi tersebut. dari kamera-kamera CCTV inilah MOSSAD kemudian membuat rencana penculikan dengan tepat.

Bagaimanakah MOSSAD dapat memastikan jemaah haji yang mereka culik itu adalah orang yang mereka hendaki?
Jawapannya adalah, setiap jemaah haji mempunyai tanda pengenal dan sejenis gelang tangan yang menggunakan teknologi biometrik. Arab Saudi telah memberikan alat untuk membaca sistem biometrik tersebut kepada MOSSAD.

Mengapa kerajaan Saudi sanggup membunuh jemaah haji sedangkan mereka adalah saudara seagama?
Untuk menjawab hal ini, kita perlu melihat sejarah kerajaan Saudi. Dinasti SAUDI adalah keturunan Yahudi.

Sumber rujukan:

Bagikan:









 

 

Tidak ada komentar:
Write komentar